Showing posts with label Business. Show all posts
Showing posts with label Business. Show all posts

Sampai Kapan Facebook Terus Menjiplak

Facebook meniru Google Plus
Penjiplakan atau peniruan merupakan hal yang sangat mudah dilakukan saat ini. Teknologi yang sangat maju memungkinkan sebuah layanan, situs atau aplikasi bisa dibuat kloningannya, bahkan sebelum aplikasi asli yang ditiru berhasil meraih banyak pengguna. Instagram banyak ditiru, bahkan nama depannya saja "INSTA" banyak dipakai untuk beberapa aplikasi dengan tujuan yang berbeda.Padahal dulu sebelum terkenal, mungkin kita tak mengenal aplikasi dengan awalan "INSTA" tersebut.

Facebook beberapa waktu yang lalu merilis tambahan layanan di aplikasi Instagram, yaitu fitur video yang berdurasi 15 detik. Sebelumnya ada aplikasi Vine buatan Twitter yang sangat populer karena mampu merekam video selama 6 detik dan membaginya ke Twitter. Semenjak ada Vine, kepopulerannya membuat Instagram kalah karena link yang menuju Vina lebih banyak dibandingkan ke Instagram.

Untuk membedakan dari Vine, Facebook mengakalinya dengan memberikan durasi video yang lebih panjang, yaitu 15 detik. Namun tetap ide dasarnya adalah Vine.

Jadilah Facebook berpikir untuk melawan Vine dengan menghadirkan fitur video di Instagram. Percaya atau tidak kemampuan rekam video tak berbeda dengan yang ada di Vine. Facebook mungkin berpikir, untuk menghadang laju Vine, mereka perlu menyediakan layanan yang sama, sehingga muncullah video di Instagram.

Tentunya bukan sekali dua hal yang sama dilakukan Facebook. Dulu mereka merilis Poke, sebuah aplikasi yang bisa mengirimkan gambar yang akan terhapus dengan sendirinya setelah beberapa waktu tertentu. Facebook membuat aplikasi Poke sebagai jawaban atas populernya aplikasi Snapchat. Tentu fungsinya pun sama. Saya kira Facebook hanya membedakan sedikit saja Poke dari Snapchat yaitu gambar akan terhapus dalam waktu tertentu yang bisa ditentukan pengguna misalnya 10 detik atau lebih.

Bisa dikatakan Poke merupakan carbon copy dari aplikasi Snapchat. Facebook pun tak malu kalau hanya menjadi peniru, mereka sepertinya hilang ide dan terpaksa meniru sesuatu yang telah ada sebelumnya. Pengguna pun tak begitu mengapresiasi apa yang dilakukan Facebook dengan Poke. Sempat ramai diberitakan, kini Poke hampir tidak ada berita lagi. Penekanannya adalah pada kata Hampir, karena saya tak lagi menemukan berita tentang Poke tersebut dan seberapa banyak yang menggunakan, sedangkan Snapchat terus membuat berita dan dipakai banyak pengguna terutama remaja.

Tidak kalah hebohnya adalah ketika Facebook meniru desain Google Plus. Peniruan ini dilakukan untuk memungkinkan pengiklan membuat iklan yang lebih besar dan lebih terlihat. Peniruan terbaru adalah menghadirkan foto di komentar yang sebelumnya terdapat di Disquss.

Tidak cukup itu saja, kabar terbaru mengatakan bahwa Facebook akan membuat aplikasi seperti Flipboard yang sangat sukses sampai hari ini dengan pengguna 50 juta. Ini merupakan usaha carbon copy berikutnya dari Facebook. Apakah Facebook kehilangan inovasi hingga hanya bisa menjiplak?

Saya rasa sebagai sebuah perusahaan teknologi yang besar, cara kerja Facebook ini tidaklah bagus untuk citra mereka. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah perusahaan yang kebanyakan meniru? Meskipun secara legal hal itu tidak salah, namun Facebook terlihat kedodoran dalam hal inovasi dan ide-ide baru untuk tetap membuat layanan mereka relevan.

Secara umur produk, Facebook sudah di titik matang. Mereka sudah berumar 9 tahun. Usia produk seperti ini rentas ditinggalkan pengguna karena pengguna melirik layanan yang lebih baru. Kita melihat pada kasus Friendster dan MySpace yang sebelumnya terkenal kemudian digantikan oleh Facebook. Facebook sebentar lagi juga akan hilang jika masih itu-itu saja.

Untuk menunda ditinggalkan pengguna Facebook memberikan tambahan layanan. Namun sayangnya kebanyakan berupa jiplakan dari produk lain. Pengguna pun tahu akan hal itu dan akan tetap meninggalkan Facebook atau minimal tidak menggunakan aplikasi atau inovasi Facebook tersebut karena mereka sudah menggunakan layanan/aplikasi lain yang ditiru Facebook tersebut. 

Hal yang patut kita lihat adalah bila mana Facebook sendiri yang berinovasi atau melahirkan produk layanan baru, hasilnya juga tidak maksimal. Kasus Facebook Home di Android misalnya, merupakan sebuah kegagalan Facebook dalam berinovasi. Tidak banyak pengguna yang mau Home smartphone mereka dikuasai Facebook. Ini tanda bahwa Facebook sebenarnya sedang bingung apa yang hendak diberikan ke pengguna karena berinovasi gagal, meniru pun tidak sukses. 

Aplikasi Traffic Mapping Waze Tambahan Bagus Bagi Google

Akhirnya, Google merampungkan pembelian aplikasi traffic Mapping Waze di angka 1,1 miliar dollar (sebagian ada yang menyebut 1 miliar dollar saja). Dalam blog resminya, semalam Google menyampaikan rampungnya pembelia Waze yang seperti terkatung-katung beberapa pekan terakhir.

Pada mulanya, perusahaan favorit yang bisa membeli Waze adalah Facebook. Facebook dikabarkan menawar Waze juga di angka 1 miliar dollar. Namun Facebook menginginkan karyawan Waze pindah ke Silicon Valley untuk bergabung dengan Facebook. Dikabarkan juga Facebook bisa memblok pihak lain karena menawar terlebih dahulu.

Tampaknya Waze tidak ingin pindah dari markasnya saat ini. Aplikasi social maps ini berbasis di Israel dan sudah cukup lama berdiri, yaitu hampir 6 tahun. Oleh karena negosiasi dengan Facebook mandeg, Google  masuk dan menawar Waze. Banyak pihak skeptis Google bisa membeli Waze karena ada Microsoft yang memiliki saham di Waze. Apalagi Facebook telah terlebih dahulu melakukan penawaran. Google menawar Waze di angka kurang lebih sama dengan Facebook dan mereka lebih fleksibel dengan membiarkan karyawan Waze untuk tetap berada di Israel. Apalagi Google punya kantor di Israel, hal ini mempermudah negosiasi.

Google membuktikan bahwa mereka cukup serius untuk membeli Waze. Dua hari yang lalu, sebuah harian di Israel mengabarkan bahwa Google dan Waze sudah hampir pada kata final pembelian Waze di angka 1,3 miliar dollar. Kabar tersebut ternyata menjadi kenyataan dua hari kemudian dengan konfirmasi Google.

Bila kita lihat, angka 1,1miliar dollar bukanlah angka yang kecil untuk sebuah aplikasi. Dulu Instagram dibeli Facebook senilai 1 miliar dollar (sebelum penyesuaian). Kira-kira apa yang diharapkan Google dari Waze karena pada dasarnya Google Maps sudah sangat superior. Dan lagi mungkin timbul kekhawatiran terkait aturan antitrust karena pemain di Maps sangat sedikit. 

Google dalam blognya mengatakan akan membiarkan Waze sementara ini tetap independen. Mereka diberikan kebebasan untuk terus memperbaiki produk dengan kolaborasi Google. Di masa depan Google berharap Waze bisa berkontribusi dan dimasukkan ke Google Maps dan mesin pencarian.

Saya rasa Waze merupakan tambahan bagus bagi Google. Dengan Waze produk Google Maps akan makin bernilai dan makin sulit disaingi oleh pemain lain. Kelebihan Waze yang memperoleh data dari 50 (28 juta aktif) juta pengguna yang terdaftar saat ini adalah kontribusi penggunanya dalam berbagi traffic. Saya sendiri menggunakan Waze dan saya rasa aplikasi ini cukup bagus dan detail.

The Verge memberikan alasan mengapa Waze merupakan aplikasi yang cukup berharga bagi Google.
 Waze also uses crowdsourcing to add context that many other mapping applications don't have. Drivers can upload information about traffic accidents, construction, gas prices, and detours, adding photos and flagging problem spots on the map to alert other drivers. The app also lets users see when their friends are driving to a common destination.
Intinya Waze adalah aplikasi user generated content yang bagus dengan menyediakan teknologi tepat bagi pengguna. Pengguna dapat melaporkan berbagai hal yang mereka alami di jalan dan berbagi informasi tersebut dengan teman mereka di media sosial lain seperti Twitter dan Facebook. Hampir tidak ada aplikasi lain serupa Waze yang fokus di maps dan menggabungkannya dengan media sosial. 


Mengapa Nokia Tidak Mau Meninggalkan Windows Phone

Stephen Elop, CEO Nokia
Sebuah serangan langsung ke CEO Nokia, Stephen Elop terjadi saat pertemuan dengan investor di Helsinki. Sebagaimana dilaporkan oleh Reuters, pemegang saham Nokia tidak puas dengan kinerja Elop, meskipun sebenarnya terdapat sedikit perkembangan penjualan Nokia Lumia berbasis Windows Phone. Para pemegang saham meminta Elop melihat opsi lain dan jika mungkin beralih ke Google Android, meskipun itu akan membuat Nokia memakan omongan mereka sendiri. 

Stephen Elop, mantan eksekutif di Microsoft adalah orang yang pertama kali mengemukakan Burning Platform lebih dua tahun yang lalu. Saat itu ia mengatakan platform nya sendiri Symbian sedang terbakar karena sudah uzur dan tak memiliki perkembangan berarti sehingga Nokia harus segera beralih ke Windows Phone. Saat itu tahun 2011, Elop memutuskan untuk bekerja sama secara mendalam dengan Microsoft guna menghasilkan smartphone yang bisa bertarung dengan Android dan iOS Apple. Nyatanya, dua tahun lebih semejak kesepakatan itu dibuat (di mana dikabarkan Nokia memperoleh uang kas per tahun 1 miliar dollar, meskipun kemudian harus membayar royalti ke Microsoft) nasib Nokia tidak juga berubah.

Elop juga telah melakukan langkah-langkah drastis pemecatan karyawan, penutupan beberapa kantor di beberapa tempat dan penjualan markas besar Nokia di Finlandia. Elop bekerja cukup keras menyelamatkan Nokia yang harga sahamnya di tahun 2000 sekitar 65 Euro dan kini tinggal hanya 3 Euro saja. Namun tentu, karena fakum menghasilkan smartphone selama dua tahun, Nokia tertinggal di pasar. Pasar andalan mereka di feature phone juga sudah diusik oleh Samsung. Ini artinya Nokia diserang di dua sisi sehingga memang tidak bisa berkata lain, selain menyerah.

Tentu saja keputusan beralih ke Windows Phone tersebut menuai banyak kecaman. Bahkan ada analis yang beranggapan, Elop telah membakar lumbung Nokia. Menurut analis ini, Symbian tidak perlu ditinggalkan, mungkin perlu direvitalisasi. Namun keputusan Elop sudah bulat dan tidak bisa disanggah. Ia juga mengatakan tidak memilih Google dengan Android-nya karena terlalu terpecah-pecah. Dan lagi uang yang ditawarkan Microsoft tentu lebih dari cukup untuk memberi Nokia nafas selagi menghasilkan smartphone yang siap bertarung di pasar.

Pada akhir tahun 2012 Nokia mulai mengunjungi pasar dengan brand Lumia. Ada beberapa handset yang mereka hasilkan seperti Lumia 800, Lumia 900, Lumia 810 dan yang baru akan beredar Lumia 928. Sebagian besar smartphone tersebut ditujukan pertama kali untuk pasar Amerika Serikat. Sayangnya sambutan terhadap Nokia Lumia biasa-biasa saja. Ini karena dua vendor besar di pasar smartphone, Samsung dan Apple tengah berada di puncak dengan produk masterpiece mereka seperti Galaxy S3 dan iPhone 5. Di Amerika Serikat boleh dikatakan Nokia gagal untuk menarik konsumen beralih ke Lumia. Di Eropa terdapat peningkatan pasar Nokia secara signifikan. Ini tidak lain, dari dulu Eropa memang bersahabat dengan Nokia.

Secara umum, Nokia Lumia bisa dikatakan gagal bersaing terutama dengan Samsung dan Apple Inc. Kondisi inilah yang membuat para investor meminta Elop untuk mencari jalan lain, kalau perlu beralih ke Android. Namun Elop tetap pada keputusannya memilih Windows Phone. Ia mengatakan tidak ada pilihan kedua. Nokia fokus di Windows Phone. Keputusan ini tentu menimbulkan pertanyaan karena Nokia kini memiliki pasar sekitar 5% saja di pasar smartphone.

Pertanyaannya, mengapa Stephen Elop bersikukuh tetap menggunakan Windows Phone? Dalam kalimat lain mengapa ia tetap tidak mau Nokia beralih ke Android?

Saya kira kritik terhadap Stephen Elop sudah sangat berlimpah. Bisa dikatakan Elop adalah CEO keras kepala. Namun tentu Elop memiliki alasan yang orang lain tidak melihat alasan tersebut. Bagi saya sendiri keputusannya tetap di Windows Phone tersebut adalah karena beberapa alasan berikut ini.

Pertama, Microsoft adalah mantan majikan Stephen Elop. Elop sempat bekerja di Microsoft dan menjadi salah satu eksekutif di sana. Mau tidak mau, karena mantan pegawai, Elop akan sangat mempertimbangkan hal ini. Selain itu, tidak ada vendor besar yang fokus di Windows Phone selain Nokia. Tentu saja jika Nokia pergi, platform Windows Phone bisa karam. Harapan Elop adalah dengan menjadi satu-satunya vendor yang fokus di Windows Phone, Nokia akan memperoleh support sangat besar. Ini dibuktikan dengan uang 1 miliar dollar dan kampanye pemasaran yang selalu didukung penuh oleh Microsoft.

Sayangnya dukungan penuh Microsoft tersebut tidak terlalu berarti. Saat Android dan iOS berjaya di pasar, konsumen akan terkooptasi oleh duopoli Android dan iOS. Mereka hanya memiliki dua pilihan terbaik, kalau tidak Android, pasti iOS. Bahkan BlackBerry pun sudah ditinggalkan banyak orang. Ini artinya support Microsoft tersebut, perlakuan istimewa terhadap Nokia oleh Microsoft tidak berlaku di pasar karena konsumen tidak melihat dukungan tersebut dalam bentuk produk yang bagus.

Kedua, Elop tentu beralasan, jikapun beralih Android, apakah ada jaminan sukses. Ini tentu sebuah pertanyaan yang perlu dijawab dengan data-data pasar dan kecenderungan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian smartphone beberapa tahun terakhir. Jika Nokia menggunakan Android apakah mungkin dijamin sukses layaknya Samsung? Saya kira, jika ini alasanya Elop, bisa jadi ia seorang CEO pesimistis. Saya sendiri melihat keunggulan Nokia di bidang hardware yang sudah terbukti. Jika hardware bagus ini dipadukan dengan sistem operasi yang tengah menjadi idola pengguna, tentu akan sangat baik. Namun tentu Nokia akan seperti vendor lain, berebut dengan vendor Android yang sangat banyak sehingga tidak mungkin memperoleh dukungan penuh dari Google. Apalagi Google sendiri menghasilkan seri Nexus yang mungkin akan menjadi pesaing Nokia.

Ketiga, Elop terlalu ego dan gengsi. Ego Stephen Elop untuk mengakui salah langkah dan segera beralih ke Android terlalu tinggi. Ia yang memutuskan berpindah ke Windows Phone dan mengatakan Android tidak bagus bagi Nokia, akan sangat terluka jika ia sendiri yang kemudian menarik kata-kata tersebut dan beralih ke Android. Selagi Nokia dipimpin oleh Stephen Elop, saya percaya hampir tidak ada kamus beralih ke Android di dalam pikirannya. Ini menyangkut harga diri sehingga Nokia pun mungkin perlu ia korbankan. Tentu saja kalau sudah seperti ini, investor Nokia sebaiknya mengganti Stephen Elop sesegera mungkin. 

Keempat, Nokia mungkin akan ada peluang untuk dijual ke Microsoft. Rumor dijualnya Nokia ke Microsoft bukan rumor baru. Dengan tetap menggunakan Windows Phone, Nokia memiliki peluang untuk dibeli Microsoft. Ini sangat terkait dengan masa depan perusahaan asal Finlandia tersebut. Jika beralih ke Android, mungkin peluang tersebut hilang karena tentu Microsoft tidak mau dan kalaupun mau membeli pasti dengan harga diskon. Dengan tetap menjadi mitra Microsoft harga Nokia akan tetap tinggi dan suatu waktu jika memang sudah tidak mampu lagi, Microsoft segera membeli Nokia. 

Tidak Sanggup Berkompetisi, Microsoft Perkarakan Google

SCROOGLED, Kampanye anti Google yang dilancarkan
Microsoft
Kompetisi adalah sesuatu yang baik bagi pengguna. Makin tinggi tingkat kompetisi dipercaya yang paling diuntungkan adalah pengguna. Demikian juga yang berlaku di dunia teknologi. Kompetisi tingkat tinggi antarplatform smartphone contohnya, memaksa produsen untuk menghasilkan smartphone yang tidak hanya bagus secara pemakaian, tetapi juga bagus dari sisi harga. Artinya harganya masuk di akal.

Namun demikian, ada juga kecenderungan perusahaan yang karena tidak kuat untuk berkompetisi, melakukan cara-cara di luar pasar untuk menaklukkan saingannya. Cara ini dilakukan oleh Microsoft dan Apple Inc., terutama terkait dengan penyalahgunaan paten. Jika kita lihat, Apple Inc. sebenarnya lebih kepada menanyakan sesuatu yang menjadi haknya karena mereka memiliki paten. Akan tetapi lain dengan Microsoft. Perusahaan yang berbasis di Redmond ini menggalang kekuatan untuk memaksa pesaingnya maju ke pengadilan, terutama tentu saja Google dengan alasan yang sering terlihat bodoh.

Baru-baru ini, Fairsearch.org, sebuah organisasi yang terdiri dari beberapa perusahaan seperti Nokia, Expedia, Microsoft dan Oracle melayangkan keberatan mereka kepada Komisi Eropa terkait penguasaan pasar smartphone oleh Android yang terlalu dominan. Fairsearch.org ini juga dulu yang melayangkan gugatan terhadap penguasaan pasar mesin pencari Google yang sangat dominan di Eropa. Dipercaya, perusahaan di belakang fairsearch.org tidak lain adalah Microsoft.

Dalam keberatannya fairsearch mengaatakan:
“Google is using its Android mobile operating system as a ‘Trojan Horse’ to deceive partners, monopolize the mobile marketplace, and control consumer data,” said Thomas Vinje, Brussels-based counsel to the FairSearch coalition. “We are asking the Commission to move quickly and decisively to protect competition and innovation in this critical market. Failure to act will only embolden Google to repeat its desktop abuses of dominance as consumers increasingly turn to a mobile platform dominated by Google’s Android operating system."
Kesimpulan dari keberatan fairsearch tersebut adalah Android yang sangat dominan di pasar Eropa. Mereka menuding Google sengaja mem-bundling Android dengan layanan milik mereka sendiri yang memaksa setiap vendor harus mengikutkan layanan Google tersebut di setiap smartphone yang mereka jual di Eropa.

Tampaknya sesuatu yang logis keberatan faisearch tersebut. Google menurut mereka secara sistematis memaksa pesaingnya keluar dari pasar dan memonopoli pasar smartphone. Keberatan ini mungkin senada dengan gugatan antitrust terhadap Microsoft yang mem-bundling setiap PC yang dijual dengan web browser internet explorer. 

Namun bila kita teliti lebih jauh, ternyata gugatan tersebut terlihat sangat bodoh. Mengapa? 
Sebuah artikel di readwrite menunjukkan bahwa kasus yang dialami oleh Microsoft yang dikenai denda oleh Uni Eropa berbeda dengan kasus penguasaan Android yang diajukan keberatannya oleh Fairsearch.

Menurut artikel tersebut, Microsoft tidak memberikan secara gratis aplikasi Windows , baik desktop maupun mobile kepada vendor yang hendak menjual PC atau smartphone. Ada biaya yang harus dikeluarkan vendor agar mereka bisa memproduksi PC dan menjualnya. Sementara dalam kasus Android, Google memberikan secara cuma-cuma sistem operasi Android kepada vendor. Terserah vendor mau diapakan, namun kalau ingin mengakses Google Play sumber ribuan aplikasi, Google meminta vendor untuk menempatkan beberapa layanan penting mereka seperti YouTube, Search dan Maps.

Jika vendor berkeberatan vendor dapat melakukan forking atau mempreteli sistem operasi Android sesuai keinginan mereka. Hal ini dilakukan oleh Amazon dengan produk Kindle-nya. Karena itulah pengguna Kindle tidak bisa mengakses Google Play karena layanan Google sudah dipreteli. Dengan demikian ada kebebasan bagi vendor apakah ingin ikut Google secara resmi atau ingin melakukan forking. Hal yang sama tidak terdapat dalam kasus Microsoft. 

Dengan demikian apa yang diajukan oleh Microsoft merupakan sesuatu yang lucu dan bodoh. Google sejatinya tidak memaksa vendor untuk ikut dengan apa yang mereka gariskan. Oleh karena Android diberikan secara cuma-cuma tidak ada kesan Google memaksa vendor untuk memasukkan layanan Google ke smartphone yang dibuat dan dijual. Namun tentu saja Google punya hak atas Android, yaitu dengan mengikatkannya ke layanan Google Play. Jika vendor ingin mengakses Google Play tiada lain adalah dengan mengikuti apa yang diberikan Google.

Menurut readwrite sangat banyak smartphone yang berbasis Android, namun tidak mencantumkan layanan Google di dalamnya. Google juga tidak ambil pusing karena akan ada keterbatasan dalam smartphone tersebut.

Hal yang lebih bisa jadi bukti adalah apa yang dilakukan Facebook dengan Facebook Home. Banyak orang yang mengatakan bahwa yang dilakukan Facebook adalah kudeta atas Android. Karena dengan Facebook Home, hal yang pertama kali ditemui pengguna adalah halaman Facebook bukan home smartphone seperti biasanya atau default. Namun apakah Google melarang adanya Facebook Home?

Google tidak melarang hal tersebut karena Facebook melakukan tweak dengan tetap mencantumkan layanan Google. Berbeda dengan Amazon yang melakukan forking, hingga tak satupun layanan Google ada di sana. Ini menjadi bukti bahwa bundling yang dilakukan Google masih dapat diatasi dan tidak ada paksaan untuk mencantumkan layanan Google.

Tentunya bukan sekali dua Microsoft melakukan serangan terhadap Google. Kampanye scroogled masih dan akan terus dilakukan Microsoft untuk "setengah memaksa" pengguna agar beralih ke mesin pencari Bing. Demikian juga dulu soal keamanan sistem Android dan yang terbaru soal developer di Google Play.

Saya melihat cara-cara Microsoft tersebut bukanlah cara-cara yang bagus untuk mengkampanyekan produk mereka. Buktinya hampir tidak ada data yang menyatakan kampanye Microsoft tersebut sukses. Hal ini karena pengguna bukanlah orang bodoh. Pengguna mengetahui dengan sangat baik mana produk yang bagus dan tidak bagus. Untuk apa beralih ke Bing atau ke Windows Phone bila tidak ada kelebihan, bahkan lebih terbatas dibandingkan mesin pencari Google dan Android.

Cara-cara Microsoft tersebut berada di luar pasar. Hal ini tidak lain karena Microsoft memang tidak bisa head to head di pasar. Di smartphone mereka tertinggal sangat jauh dibandingkan Android. Di mesin pencari hal yang sama terjadi. Microsoft memang tidak bisa apa-apa di kedua bidang tersebut. Kualitas produk mereka jauh tertinggal sehingga mereka mencoba menjatuhkan Google dengan cara-cara lain di luar pasar. Namun cara-cara tersebut saya percaya malah akan membuat jelek nama Microsoft. 

Sebaiknya Microsoft fokus dalam menghasilkan prpduk yang baik. Berkompetisilah dengan sehat. Namun saya percaya Microsoft tidak akan menempuh jalan tersebut.




Sundar Pichai Gantikan Andy Rubin di Android

Sundar Pichai, Kepala Android yang baru
Tanpa ada desas-desus sebelumnya, Andy Rubin yang telah mengepalai pengembangan sistem operasi smartphone Android sejak tahun 2005 (ketika dibeli Google) digantikan oleh Sundar Pichai yang selama ini mengepalai Chrome dan Aplikasi Google. Kabar digantikannya Rubin oleh Sundar Pichai diperoleh dari blog yang ditulis sendiri oleh CEO Google, Larry Page. Dalam blog tersebut dinyatakan bahwa sudah waktunya Andy Rubin memulai hal yang baru di Google setelah hampir delapan tahun mengembangkan Android hingga berhasil menjadi platform tersebesar smartphone dunia.

Menariknya, management shake up di Google, khususnya Android ini hampir tidak didahului oleh rumor atau kejadian luar biasa seperti yang dialami oleh Scott Forstall di Apple Inc. Scott Forstall terlempar dari Apple Inc. setelah aplikasi peta Apple mendapat kritikan pedas pengguna sehingga memaksa Tim Cook memberikan pernyataan maaf. Hal yang berbeda ketika Sundar Pichai menggantikan Andy Rubin. Tampaknya management shake up di Android ini merupakan hal yang biasa dan Andy Rubin pun tidak akan ke mana-mana. Ia akan masih berada di Google, mungkin bergabung dengan Google X untuk menghasilkan produk sophisticated lainnya seperti Google Glass karena Andy Rubin dikenal sebagai sosok yang bisa membuat produk dari nol.

Pergantian pimpinan di Android ini juga menandakan era baru bagi Google. Selama ini divisi Android dan Chrome merupakan divisi terpisah yang dipimpin oleh dua orang yang berbeda. Dengan menarik Sundar Pichai menjadi pimpinan Android, kedua divisi ini akan menyatu minimal dalam satu pimpinan. Dengan demikian Chrome yang selama ini difokuskan untuk laptop akan disatukan dengan Android yang khusus untuk perangkat mobile seperti smartphone dan tablet.

Pergantian pimpinan ini mungkin juga sebuah tanda bahwa mungkin Google akan mulai menyatukan dua sistem operasi yang berbeda, Chrome dan Android. Perlu diketahui bahwa Google dikritik mengapa harus memiliki dua sistem operasi untuk dua hal yang bisa disatukan. Hal ini menjadi tantangan baru bagi Sundar Pichai, apakah ia mampu menyatukan atau malah meneruskan apa yang selama ini dilakukan Rubin.

Membaca blog yang ditulis oleh Larry Page, kesan bahwa bahwa Sundar Pichai diserahi tugas untuk mengembangkan Android lebih jauh. Ini artinya sistem operasi Android secara pengguna sudah sangat bagus. Langkah selanjutnya mungkin menjadikan sistem operasi ini menjadi ladang uang bagi Google meskipun masih akan memberikannya secara gratis kepada vendor.

Sundar Pichai sepertinya memiliki kapabilitas untuk hal tersebut. Baru-baru ini Chrome menghasilkan laptop premium yang disebut Chromebook Pixel. Laptop ini merupakan laptop pertama atau hardware pertama yang benar-benar dirancang dan dibuat oleh Google. Secara desain laptop ini bisa disandingkan dengan Macbook dari Apple Inc. Laptop ini merupakan karya dari Sundar Pichai dan tim Chrome.

Tidak itu saja. Sundar Pichai yang bergabung dengan Google di tahun 2004 merupakan sosok yang sangat penting dan memiliki karier cerah di Google. Dua tahun yang lalu, Twitter mencoba untuk membujuk Sundar Pichai agar mau bergabung dengan mereka. Kemungkinan besar posisi yang ditawarkan waktu itu adalah CTO. Namun Google merasa Sundar Pichai adalah aset yang sangat berharga sehingga menawarkan kompensasi bernilai puluhan juta dollar agar ia tetap berada di Google. Bujukan Google berhasil dan Sundar Pichai mulai saat itu masuk dalam top eksekutif Google.

Tentu saja dengan mengepalai Android Sundar Pichai akan makin ditantang untuk melanjutkan kinerja bagus Android di bawah Andy Rubin. Namun Sundar Pichai tidak perlu khawatir karena ia akan tetap dibantu oleh tim yang solid yang diisi oleh orang-orang berpengalaman seperti Matias Duarte. 

Taktik Jitu Samsung Mengalahkan Apple Inc.

sumber: flickr.com/photos/samsungtomorrow
Sehari sebelum peluncuran smartphone terbaru Samsung, yaitu Galaxy S4, Samsung terus memberondong internet dengan berbagai teaser dan leaked image smartphone yang diperkirakan akan membuat jurang perbedaab makin dangkal antara kedua perusahaan teknologi tersebut. Cara-cara Samsung menarik perhatian calon konsumennya patut diacungi jempol dengan terus memberikan update tentang smartphone mereka tersebut. Melalui The Next Big Thing Samsung melancarkan kampanye terpadu untuk menggugah rasa penasaran publik terhadap smartphone mereka terbaru, Galaxy S4.

Satu lagi yang cukup membuat kita berpikir adalah untuk pertama kalinya, Samsung meluncurkan varian Galaxy S di Amerika Serikat, tepatnya di New York yang lokasinya hanya dua blok dari toko Apple Inc. Pemilihan lokasi peluncuran ini tentu saja punya maksud jelas bahwa Samsung sangat siap untuk bersaing dan menjadi pemenang pertarungan. Rumor Galaxy S4 mengalir sangat deras hingga menutupi coverage media terutama internet yang sangat fokus kepada Apple selama ini. 

Seolah-olah ada media darling baru, yang secara intens selalu muncul di berbagai media. Tidak salah tentunya, sejak kemunculan berbagai varian smartphone dan tablet, Samsung makin memperoleh liputan media. Samsung yang dikenal sebagai fast follower, pelan tetapi pasti menunjukkan mereka mampu memberikan smartphone terbaik bagi konsumen agar mereka melupakan ekosistem Apple Inc. dan beralih ke Samsung.

Tahun lalu, ketika Samsung Galaxy S3 diluncurkan di Inggris, Samsung sudah mulai menampakkan kekuatan mereka. Penjualan Galaxy S3 dinilai sangat sukses, demikian juga dengan Galaxy Note dan Galaxy Note 2. Dengan menghadirkan berbagai varian, Samsung menyasar berbagai lapisan konsumen dan hal ini tentu sebuah strategi yang cocok untuk bersaing dengan Apple Inc. yang hanya punya satu iPhone dengan berbagai seri. 

Sepertinya Samsung melakukan pengepungan dengan memberondong pasar dengan banyak tipe smartphone yang terkadang terlihat seperti dipaksakan. Contohnya Galaxy Grand dan Galaxy S3 Mini. Kedua tipe smartphone ini bisa dikatakan hanya berfungsi sebagai kecap untuk terus mengingatkan konsumen bahwa Samsung terus melahirkan produk, sementara Apple Inc. hanya sekali setahun (?). Dengan demikian, pilihan konsumen lebih banyak dengan variasi harga yang juga bermacam-macam. Konsumen seperti dilingkari produk Samsung, mereka secara sengaja atau tidak membicarakan Samsung dan ini sebuah taktik yang cukup bagus melawan Apple Inc. yang cenderung tertutup dan memiliki produk sedikit.

Saya pernah ingat sebuah taktik peperangan, yaitu seranglah musuh di bagian terlemah mereka. Saya kira Samsung secara sengaja menjalankan taktik ini. Bukti bisa kita munculkan ketika Samsung menggerek lebar layar smartphone buatan mereka makin lebar. Sukses Galaxy Note pertama dengan layar 5,3 inchi, lalu Samsung Galaxy S3 dengan layar 4,8 inchi dan terakhir Galaxy Note 2 dengan layar 5,5 inchi membuat orang ketika memegang iPhone terasa sangat kecil.
"If you see this stuff on TV enough, it gets you thinking," said Mr. Hernandez, a 34-year-old resident of Somerville, Mass., who adds that he likes how his Galaxy has a larger screen than the iPhone. "Now, when someone gives me an iPhone to look at a picture, it looks so tiny."
Perbedaannya tentu cukup jelas. Ketika saya memegang Galaxy Note, saya memperoleh pengalaman multimedia yang lebih baik. Menonton filim, browsing internet, membaca file-file PDF dengan layar lebih lebar terasa lebih asyik. Berbeda ketika saya beralih ke iPhone. Layarnya terasa mini, perlu lebih banyak fokus dan pengalaman multimedia yang kurang serta membuat mata lebih cepat lelah. 

Dari sini saja saya bisa memperbandingkan pengalaman pengguna ketika mereka menggunakan iPhone. Samsung punya taktik bagus melawan Apple Inc. di sisi mereka yang paling lemah, yaitu variasi layar dan variasi produk. Tidak itu saja dengan dukungan sistem operasi Android yang makin hari makin bagus, Samsung benar-benar ditopang dari segala sisi sehingga mereka punya senjata lengkap untuk berperang dengan Apple Inc.

Media luarpun mengamini bahwa mungkin Samsung telah mencuri coolness yang selama ini menjadi milik Apple Inc. Samsung terlihat cool dengan produk mereka yang semakin baik. Juga anggaran pemasaran mereka yang seperti tanpa batas. Silahkan lihat beberapa video Galaxy S3, bahkan mereka yang selama ini menganggap iklan Apple adalah iklan terbaik, tak sungkan memberikan pujian bagi iklan Samsung tersebut.

WSJ dalam sebuah artikelnya mengatakan bahwa:
 Ken Yarmosh, chief executive of Savvy Apps in Washington, D.C., said his company began by making apps for Apple's iOS operating system but lately has been focusing on Android as Samsung devices have become more prevalent, especially among his own company's testing devices.
Sebuah usaha yang patut diberikan pujian. Berkat Samsung (yang pada tahun 2012 lalu mengapalkan lebih dari 200 juta ponsel) developerpun mulai beralih fokus ke Android. Tentunya bukan sesuatu hal yang baru karena developer akan selalu mencari pasar yang lebih besar. Akan tetapi meninggalkan Apple Inc. butuh banyak perhitungan karena mereka selama ini merupakan kesayangan developer. Namun, mau tidak mau karena kemajuan Samsung yang lebih besar, hal ini menjadi sebuah kemustian.

Saya rasa perang ini belumlah akan usai, masih di tahap awal. Apple Inc. akan segera bereaksi dengan merilis variasi produk yang lebih banyak. Bulan Juni nanti mungkin akan lahir iPhone Plus dengan cover warna-warni atau mungkin iPhone 5S. Bisa jadi Apple Inc. akan merilis phablet mereka yang pertama dan kembali meraih coolness yang sempat dicuri oleh Samsung. Namun setidaknya saat ini, Apple telah tercuri dengan cara-cara Samsung. Kehadiran Apple Inc. di media melalui rumor-rumor tentang produk mereka sudah tergantikan oleh Samsung. Perhatian publik kini tersita oleh Samsung, sementara Apple Inc. masih bergulat dengan pertanyaan apakah layar iPhone sebaiknya diperlebar.

Note: Penulis tidak terkait dalam bentuk apa pun dengan Samsung dan Apple kecuali melalui smartphone mereka.

Apple Versus Google, Persaingan Tanpa Akhir

Tentu selalu menarik untuk membahas dua perusahaan teknologi terkemuka saat ini, yaitu Apple Inc dan Google. Dari sisi manapun kedua perusahaan yang dulunya bersekutu dekat ini, memberikan berbagai macam penafsiran yang sangat layak untuk ditelusuri lebih jauh. Salah satu sisi yang mungkin sangat menarik adalah harga saham. 

Berbagai label diberikan kepada Apple Inc dan Google. Perusahaan paling inovatif masih dipegang oleh Apple Inc. dengan produk mereka yang sedikit, tetapi mampu mengubah cara pandang banyak orang. Google meraih predikat sebagai perusahaan tempat bekerja terbaik untuk keempat kalinya berturut-turut karena pengelolaan sumber daya manusianya yang sangat baik.

Di sisi inovasi ini, beberapa waktu terakhir dikabarkan bahwa Apple Inc mengalami perlambatan dalam berinovasi. Hal ini dibuktikan dengan produk yang tidak juga berkembang secara kasat mata. Kita bisa melihat bahwa iPhone masih berukuran hampir sama dengan yang pertama kali dikeluarkan di tahun 2007 yang lalu. Hal ini membuat pesaing mereka seperti Samsung meraih pasar yang lebih baik di sebagian besar pasar kecuali Amerika Serikat karena produk mereka yang lebih variatif.

Banyak orang mengatakan bahwa masa-masa puncak iPhone sudah terlewati sehingga produk tersebut sudah sangat matang sehingga kemudian sedikit membosankan. Fitur-fitunya juga tidak jauh berkembang dengan versi pertama tahun 2007 meskipun sudah memasuki generasi keenam. Hal yang terutama banyak dikritisi adalah luas layar yang tidak jauh berbeda, sementara pesaingnya, terutama smartphone berbasis Android layarnya semakin lebar dan memberikan pengalaman multimedia yang lebih baik.

Alasan-alasan di atas setidaknya memengaruhi harga saham Apple Inc yang pernah naik hingga 800 dollar AS pada waktu iPhone 5 diluncurkan. Ditambah dengan tekanan adanya masalah supplier bahan baku serta tekanan kompetitor yang harganya semakin murah, membeli iDevice menjadi kurang menarik meskipun daya magis brand-nya masih sangat kuat bagi sebagian pengguna.

Hingga kini harga saham Apple Inc. menunjukkan kecenderungan terus menurun. Saat artikel ini dipublikasikan, Bloomberg melaporkan harga saham Apple hanya 425 dollar AS. Angka ini tentu saja sudah jauh turun dibandingkan angka 800 dollar AS. Hal yang penting untuk kita ketahui adalah bahwa Apple Inc. tidak mengalami hal serupa Nokia yang harga sahamnya turun lebih dari 80% semenjak berpindah ke Windows Phone. Nokia mengalami penurunan harga saham karena tidak adanya produk baru di pasar yang bisa bersaing dengan iPhone dan Android. Demikian juga dengan BlackBerry yang vakum produk baru hampir dua tahun yang membuat pioner pasar smartphone itu juga jatuh harga sahamnya. 

Di Apple Inc. hal yang berbeda terjadi. Sampai saat ini iPhone 3 GS masih dijual. Demikian juga dengan iPhone 4, 4S dan yang terbaru iPhone 5. Apple Inc. tidak pernah absen merilis produk baru setiap tahun, seperti iPad. Ini artinya pengaruh turunnya harga saham bukan karena ketiadaan produk, tetapi lebih kepada produk yang sudah mencapai masa dewasa.

Mungkin investor melihat, setelah enam tahun sejak diluncurkan, iPhone tidak banyak mengalami perubahan. Orang masih banyak membeli iPhone, tetapi hype-nya atau daya magisnya sudah jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Persaingan dengan Android juga membuat repot terutama melihat seri Phablet Android yang terus bermunculan, sementara Apple Inc tidak juga bergerak luas layarnya. 

Mungkin sebenarnya luas layar tersebut tidak terkait dengan inovasi, tetapi bagaimanapun konsumen melihat bahwa Apple Inc sepertinya tidak mengikuti trend pasar. Meskipun merilis iPad Mini untuk bersaing dengan tablet 7 inchi Android, sepertinya belumlah cukup untuk melawan pabrikan Android yang bermacam-macam corak dan bentuk produknya.

Hal-hal tersebut saya kira akan membuat khawatir investor sehingga berimbas kepada harga saham Apple Inc. yang jauh turun dibandingkan saat peluncuran iPhone 5.

Berbeda dengan Google. Bloomberg melaporkan bahwa harga saham Google kini tengah berada di angka 831 dollar AS. Meski sempat menglami tekanan pada saat Larry Page mulai mengambil alih posisi CEO, ternyata tekanan itu tidak berlangsung lama. Perlahan namun pasti, Google berhasil mengerek harga sahamnya hingga mencapai harga 800-an dollar.

Hal ini merupakan cerminan dari kinerja keseluruhan Google. Meskipun berskala jauh lebih kecil dibandingkan Apple Inc. tetapi Google mampu menghilangkan satu per satu lawan yang bisa menghadang. Contohnya Facebook yang diperkirakan akan mampu merebut pasar iklan dari Google. Ternyata setelah lahirnya Google Plus, Facebook memperoleh lawan yang sepadan sehingga ancaman Facebook dapat diatasi. Demikian juga di mesin pencari, bisa dikatakan hanya Google yang mampu terus memberikan inovasi.

Di smartphone dan tablet Android menjadi leader di seluruh dunia. Meskipun tidak memperoleh fee secara langsung dari setiap vendor yang menggunakan Android, Google bisa memasang iklan mobile yang pasarnya makin hari makin gemuk karena peralihan pengguna yang cenderung menggunakan perangkat mobile internet.

Meskipun bisa dikatakan rugi saat melakukan akuisisi Motorola Mobility, saya kira Google mengambil manfaat lain dari akuisisi tersebut sehingga tidak menekan harga saham mereka. Sampai saat ini Motorola Mobility belum menghasilkan satupun smartphone yang sesuai dengan standar Google. Namun portofolio paten Motorola Mobility merupakan aset yang sangat penting untuk bisa meredam perang paten yang dilakukan oleh Apple Inc dan Microsoft.

Hal ini menjadikan Google lebih sustainable. Proyek mereka yang sangat futuristik seperti Google Glass sudah cukup mencengangkan bagi peminat teknologi. Proyek ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan pemasarannya juga sangat bagus sehingga kesan perangkat ini hanya untuk orang gadget freak menjadi berkurang secara signifikan. Banyak ulasan yang menyanjung bahwa dari sisi desain, Google Glass merupakan desain produk terbaik yang pernah dilahirkan oleh Google. Bahkan The Verge yang mencoba Google Glass mendeskripsikan bahwa desain Google Glass jauh melampaui desain Apple Inc. yang selama ini menjadi patokan desain hardware.

Hal-hal positif tersebut memberikan dampak positif bagi saham Google. Meskipun secara fondasi finansial Apple jauh lebih baik karena memiliki uang yang tak terpakai hingga 131 miliar dollar, sedangkan Google hanya memiliki 48 miliar dollar. Investor mungkin melihat bahwa Google akan terus bergerak maju, sementara Apple Inc. akan tetap seperti sedia kala.  Apple Inc. akan terus mengeluarkan produk inovatif mereka, namun itu semua sudah bisa diperkirakan, tidak jauh dari iPhone dan iPad. Barangkali rumor iWatch yang akan segera dirilis bisa sedikit menjadi jawaban terhadap sebuah produk yang sophisticated, layaknya Google Glass. Namun sekadar jam canggih, sudah ada di pasar dan mungkin tidak berbeda banyak dengan yang akan dirilis Apple Inc sehingga hype berkurang.

Pertanyaannya, apakah harga saham Apple Inc. akan terus turun dan Google akan terus naik? Tentunya sangat sulit memastikan hal ini. Namun saya percaya pada titik tertentu, saham Apple Inc. bisa naik lagi. Demikian juga Google, harga sahamnya bisa saja turun di waktu tertentu. Paling tidak yang ada saat ini adalah Google cenderung terus naik, sedangkan Apple Inc cebderung stagnan dengan kemungkinan turun. Bila melihat beberapa faktor, barangkali Apple Inc. perlu sebuah gebrakan agar hype dan daya magis produk mereka kembali seperti semula. Barulah kemudian harga sahamnya akan mengalami peningkatan kembali.

Note: Dirangkum dari berbagai sumber.

Google Segera Buka Toko Ritel Sendiri

Google Store
Di antara raksasa teknologi dunia, Google jelas tertinggal dalam hal toko ritel. Dalam hal toko ritel ini, Apple Inc. menjadi leader karena tidak hanya jumlah toko yang sangat banyak, tetapi juga pengunjung serta penjualannya yang sangat bagus. Diperkirakan sedikitnya ada 300 juta pengunjung toko ritel Apple Inc semenjak Oktober 2011. Langkah Apple Inc. ini kemudian diikuti oleh Microsoft. Microsoft mungkin menyadari betapa pentingnya toko ritel bagi mereka sehingga berencana membangun sebanyak mungkin toko ritel untuk produk mereka.  

Tentu saja Google sampai saat ini belum memiliki satupun toko ritel milik mereka sendiri. Biasanya mereka punya spot tertentu di toko eletronik lain untuk memajang produk mereka seperti ChromeBook. Namun dengan  hanya spot yang sangat kecil mungkin kurang cocok dengan Google yang produknya semakin hari semakin bertambah sehingga sangat logis bagi Google mendirikan toko ritel sendiri.

Beberapa artikel di situs teknologi hari ini mengindikasikan kemungkinan Google mendirikan toko ritel milik mereka sendiri. Bagi saya tentu sangat logis Google membuka toko ritel miliki sendiri agar konsumen lebih bisa berinteraksi dengan produk-produk Google seperti Nexus 4 yang sangat laku.

Pembukaan toko ritel Google ini tentu saja akan men-drive pengunjung untuk berkunjung dan mencoba produk Google. Dengan demikian, konsumen dapat langsung mencoba dan memutuskan untuk membeli apa yang mereka inginkan, apakah smartphone, tablet, Google TV, atau sekadar mencoba produk masa depan seperti Google Glass dan Driverless Car.

Saya rasa kebutuhan toko ritel bagi Google juga akan semakin meningkat terkait dengan Google Glass. Dengan harga awal 1.000 USD, tentu saja konsumen ingin betul-betul mengetahui kemampuan kacamata khusus ini sehingga kemudian bisa memutuskan untuk membeli. Jika ternyata tidak dapat mencoba langsung, tentu saja akan masih ada keraguan konsumen untuk membeli. Dengan adanya toko ritel, Google bisa menempatkan (paling tidak prototipe) dari Google Glass sehingga konsumen bisa mencobanya.

Bila kita lihat di sisi lain, seperti smartphone dan tablet, Nexus 4 dan Nexus 10 cukup bagus responnya dari konsumen. Khusus untuk Nexus 4 seringkali di Google Play mengalami out of stock karena ketersediaan yang sangat sedikit. Ini mengindikasikan bahwa brand Nexus semakin banyak peminatnya. Peminat ini tentu saja terlebih dahulu ingin mencoba dan kemudian memutuskan untuk membeli. Dengan adanya toko ritel Google keinginan konsumen tersebut bisa terwujud.

Ujungnya tentu saja Google bisa meningkatkan penjualan produk fisik mereka. Perlu kita ketahui, sebagian besar pendapatan Google berasal dari iklan online. Dengan adanya toko ritel, variasi pendapatan Google akan bertambah dan bisa menjadi jalan yang cukup bagus untuk terus mem-push karyawan Google agar bisa menghasilkan produk fisik yang lebih banyak.

Namun tentunya, pendirian toko ritel tersebut bukan tanpa masalah. Pertama, toko ritel merupakan investasi jangka panjang. Hal ini akan memberikan risiko keuangan bagi Google. Terutama dari sisi pengeluaran, jelas sekali Google akan mengucurkan banyak uang bagi pendirian toko ritel. Hal ini setidaknya akan memengaruhi kondisi keuangan Google. Artinya butuh analisis yang lebih mendalam apakah toko titel Google benar-benar dibutuhkan karena selama ini Google masih bisa memiliki spot tertentu di toko elektronik lain dengan biaya yang jauh lebih rendah.Jika masih bisa menampilkan produk dengan biaya rendah, mengapa harus mendirikan toko ritel sendiri.

Kedua, pada dasarnya Google bukanlah perusahaan yang bisa mengontrol produknya secara end to end seperti Apple Inc. Google bukanlah perusahaan hardware dan software sekaligus seperti Apple Inc. Ini artinya Google bergantung kepada perusahaan lain untuk menghasilkan produk hardware mereka seperti smartphone dan tablet serta laptop ChromeBook. Dengan demikian, Google tidak bisa mengontrol ketersediaan produk yang bisa saja kurang atau berlebih untuk suatu toko tertentu. Kasus sold out-nya Nexus 4 bisa dijadikan contoh betapa Google sangat lemah dalam memprediksi kebutuhan konsumen sehingga memesan sangat sedikit Nexus 4 kepada LG.

Ketiga, sebenarnya produk Google hanya dimiliki setengah saja oleh Google. Mengapa demikian? Meskipun memiliki brand Nexus untuk smartphone dan tablet, produk tersebut merupakan buatan LG, Samsung dan ASUS. Demikian juga laptop ChromeBook  yang dibuat oleh ACER dan Samsung. Ini artinya masing-masing perusahaan tersebur juga telah menjual produk Google di toko ritel mereka sehingga jika Google masih mendirikan toko ritel sendiri mungkin akan mubazir.

Keempat, Google perlu merekrut karyawan baru untuk toko ritel mereka. Tidak hanya akan menambah karyawan (kini jumlahnya lebih dari 53 ribu di seluruh dunia) Google pun perlu melatih mereka agar terampil menjajakan produk Google. Hal ini tentu bukan perkara mudah, baik dari sisi perekrutan, biaya maupun jumlah karyawan yang semakin membengkak.  

Alasan tersebut di atas merupakan sebagian dari alasan mengapa Google tidak seharusnya mendirikan toko ritel sendiri. Google mungkin hanya perlu menggenjot penampilan mereka di toko-toko elektronik seperti Best Buy sehingga bisa menjual lebih banyak dengan biaya yang lebih murah. Jikapun dibutuhkan toko ritel mungkin hanya untuk produk yang benar-benar dihasilkan oleh Google, seperti Google Glass dan internet super cepat. Hal ini akan mendorong Google membuat Speciality Store yang hanya menjual produk miliki Google sendiri secara eksklusif.

Google Bangun Bandar Udara Pribadi Senilai 82 Juta Dollar

cdn.ndtv.com
Google selalu terkait dengan proyek-proyek yang besar. Salah satu proyek besar yang akan segera mereka garap adalah pelabuhan udara pribadi (khusus untuk Google) dengan nilai proyek senilai 82 juta dollar Amerika Serikat. Kabar akan dibangunnya bandar udara pribadi ini dilansir sebuah situs SF Bay Area yang merupakan afiliasi dari situs nbcarea.com. 

Pejabat kota San Jose mengatakan bahwa kota tersebut seharusnya menerima sebuah penawaran dari operator besar pelabuhan udara untuk membangun bandar udara eksekutif khusus bagi Google dengan nilai proyek 82 juta dollar AS. 

Operator bandar udara tersebut adalah Signature Aviation, sebuah perusahaan Inggris yang akan bekerja sama dengan Blue City Holdings San Jose LLC yang menjadi langganan Google selama ini untuk jet pribadi eksekutif Google. Proyek tersebut akan membangun bandar udara khusus eksekutif bagi Google, hanggar, dan ramps space untuk mengakomodasi jet pribadi. 

SF Bay Area juga melaporkan bahwa lima anggota yang mengevaluasi penawaran dari Signature telah menyatakan setuju dengan memberikan rating 991 dari kemungkinan 1.000. Ini artinya proyek tersebut sudah dalam tahap persetujuan dan mungkin tinggal pembangunan.

Dengan adanya proyek tersebut bisa berdampak langsung terhadap perekonomian San Jose. Diperkirakan senilai 2,6 juta dollar akan dihasilkan dari penyewaan, 400 ribu dollar fee bahan bakar dan 70 ribu sampai 300 ribu pajak baru.  Selain itu akan menciptakan 376 pekerjaan langsung dan tidak langsung plus 150 hingga 200 saat konstruksi.

Proyek Google ini tentu saja berdampak positif sehingga pemerintah San Jose sepertinya akan mengijinkan dilakukannya pembangunan bandar udara pribadi Google. Google tampaknya semakin menunjukkan dirinya dengan membangun proyek-proyek yang terkait langsung dengan kelancaran bisnis mereka. Perlu diketahui, frekuensi terbang eksekutif Google sangat tinggi. Salah satu bukti adalah  Eric Schmidt yang terus melakukan perjalanan guna mengakampanyekan Google.

Beberapa waktu yang lalu, Eric Schmidt baru saja mengunjungi Korea Utara yang merupakan negara yang sulit dikunjungi oleh wakil negara manapun. Namun Google melalui Eric Schmidt bisa mengunjungi Korea Utara bersama anak perempuannya. 

Tentu saja dengan dibangunnya banda udara pribadi ini, perjalanan eksekutif Google akan lebih lancar. Mereka tidak perlu lagi ke bandar udara publik yang selama ini menjadi andalan. Jet-jet pribadi Google cukup berada di San Jose sehingga kapanpun dibutuhkan dapat terbang.

Google Versus Perusahaan Besar Silicon Valley

Beberapa waktu terakhir persaingan di antara perusahaan di Silicon Valley semakin memanas. Google, Apple, Facebook, Amazon dan masih banyak lainnya terlibat perseteruan yang sengit. Beberapa waktu sebelumnya dalam sebuah artikel dituliskan bahwa ada empat perusahaan yang saling berebut dominasi, yaitu Google, Apple, Facebook, dan Amazon. Mohon maaf bagi fans Microsoft, artikel tersebut tidak menyebut nama perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates tersebut karena dipandang paling tertinggal di antara empat perusahaan lainnya.

Satu perusahaan yang patut terus diperhatikan pastinya adalah Google. Google semenjak dipegang kembali oleh CEO-nya yang pertama Larry Page menunjukkan perkembangan yang signifikan. Gaya kepemimpinan Larry Page memang berbeda dibandingkan Eric Schmidt. Schmidt sangat berjasa meletakkan dasar-dasar pengelolaan perusahaan dan bentuk-bentuk awal produk dan monetisasi produk Google. Di tangan Larry Page hal ini menjadi sebuah kekuatan dengan gaya kepemimpinan yang lebih dinamis. Satu yang tidak berubah di antara dua orang tersebut adalah mereka sama-sama sangat suka membeli atau mengakuisisi perusahaan lain. Di tahun-tahun yang lalu, misalnya dalam satu tahun ada 50 perusahaan besar dan kecil yang dibeli oleh Google.

Kemajuan signifikan Google juga terlihat di harga saham mereka di lantai bursa. Pada Oktober 2012 yang lalu, Google mencapai harga saham all time high di angka 774,38 dollar AS. Angka ini kembali pecah beberapa hari yang lalu saat harga saham Googl ditutup di angka 775,60 dollar AS. Harga saham yang terus naik merupakan cerminan kinerja yang baik. Ini dibuktikan dengan bagusnya beberapa produk Google, seperti mesin pencari, Android, Maps dan lainnya.

Tentunya pesaing Google tidak tinggal diam. Pesaing yang terdekat bagi Google adalah Apple Inc dalam hal software smartphone dan pasar smartphone secara keseluruhan. Selain itu ada Facebook yang sangat kuat di media sosial dan mencoba-coba mencari celah di mesin pencari. Pesaing lain, Microsoft lebih tertinggal, namun sering menantang Google dengan kampaye jelek tentang Google.

Facebook juga menantang Google dengan mencoba menerapkan Facebook Graph, sebuah tool pencarian di Facebook. Sejauh ini tool ini bisa dikatakan hanya membongkar hal-hal yang dilakukan pengguna media sosial. Istilahnya kegunaa tool ini tidak dapat diperbandingkan dengan search engine Google. Benar, Facebook memiliki setiap data penggunanya yang kini lebih dari satu miliar akun. Namun ini data mentah yang perlu diolah dan dibagi lagi lebih detail. 

Hal yang lebih aneh adalah mesin pencari Bing yang ada di Facebook. Saya pernah mengalami mencari sebuah halaman bisnis (Facebook Page) yang benar-benar ada di Facebook, tetapi seketika dicari dengan Bing tidak bertemu padahal kata kuncinya adalah naman halaman tersebut. Seketika saya beralih menggunakan search engine Google yang nyata-nyata berada di luar Facebook, hasilnya malah tepat 100%. Ini membuktikan bahwa mesin pencari Google masih jauh di depan dibandingkan lawan-lawannya.

Hal yang perlu kita lihat juga adalah proyek masa depan dan mungkin termasuk aneh bagi orang kebanyakan. Proyek mobil tanpa sopir atau Driverless Car merupakan proyek ambisius Google untuk masa depan guna mencegah banyaknya nyawa melayang secara sia-sia di jalan. Proyek Google Glass merupakan proyek kacamata khusus yang dikendalikan dengan mata. Plus proyek internet super kencang yang telah dimulai di Kansas yang memberikan kecepatan internet 1 gigabyte per detik atau seratus kali lebih kencang dari kecepatan internet yang ada saat ini di Amerika Serikat.

Proyek-proyek yang disebut Moon Shot tersebut hampir tidak ada di perusahaan sekelas Apple Inc., yang katanya merupakan perusahaan paling inovatif di dunia. Di saat Google sudah merancang kacamata khusus yang mungkin akan membuat orang meningglkan ponsel selamanya, Apple Inc. masih bergulat untuk menghasilkan televisi yang sudah dari dulu hadir di dunia.Padahal uang kas Apple Inc. yang menganggur itu tidak tanggung-tanggung, lebih dari 130 miliar dollar.

Mungkin ini semacam perbedaan visi pemimpin dan budaya perusahaan saja. Namun dengan sedemikian banyaknya uang kas menganggur, mestinya Apple Inc. punya inisiatif sebuah proyek besar atau mungkin proyek kemanusiaan yang mencakup seluruh dunia seperti yang dilakukan Google dengan Google Student-nya.

Bisa kita simpulkan bahwa Apple Inc. menghasilkan uang lebih untuk disimpan dan dibagi kepada pemegang sahamnya. Apple Inc mungkin tidak tertarik membuat proyek besar. Namun Google adalah perusahaan yang berbeda. Mereka mengumpulkan recehan dari iklan di mesin pencari, dikumpulkan dan kemudian mereka berani melakukan proyek yang berada di luar nalar manusia. Ini sesuatu yang patut dikagumi dari Google. Mereka memang berbeda dengan budaya perusahaan yang jelas jauh berbeda dari Apple Inc., Facebook, Microsoft dan Amazon.

Posisi BlackBerry Setelah Peluncuran BlackBerry 10

Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu banyak orang dari BlackBerry (dulu RIM) muncul juga. Dua hari yang lalu, BlackBerry yang secara resmi mengganti nama RIM menjadi hanya BlackBerry merilis dua smartphone andalan mereka berbasis BlackBerry 10 (sebelumnya dikenal dengan QNX). Dua buah smartphone baru tersebut adalah Z10 dan Q10. Bisa disimpulkan, peluncuran dua smartphone tersebut jauh dari kata "Kejutan". Tidak ada sama sekali unsur kejutan karena sebagian besar telah bocor sebelumnya ke publik melalui banyak foto dan video terutama BlackBerry Z10.

Bahkan sebelumnya sudah ada preview di sekitar kemampuan BlackBerry Z10. Banyak sekali preview dan kemudian review setelah peluncuran yang positif terhadap BlackBerry Z10. Sayangnya hampir tidak ada yang membahas BlackBerry Q10, jagoan lain BlackBerry yang merupakan smartphone hybrid karena memiliki kemampuan touch screen dan keyboard fisik QWERTY khas BlackBerry. Satu hal lagi, BlackBerry Q10 ini belum jelas benar penampakannya. BlackBerry baru memperkirakan smartphone ini akan muncul di bulan April 2013.

Patut dicatat, meskipun diluncurkan di New York, Amerika Serikat, ketersediaan BlackBerry Z10 di AS baru akan ada di bulan Maret 2013. Sementara di pasar-pasar lain, seperti Inggris dan China, kemungkinan besar sudah akan tersedia pada tanggal 5 Februari 2013. Ini menandakan bahwa Amerika Serikat hanya dijadikan tempat untuk merilis smartphone, sementara BlackBerry lebih fokus di pasar yang lain. Hal ini cukup beralasan karena pengguna BlackBerry di AS terus menunjukkan penurunan. Tidak hanya pengguna atau konsumen individual, tetapi juga korporasi dan agen pemerintahan federal AS yang selama ini menjadi pengguna terbesar handset BlackBerry.

Catatan lain, tampaknya BlackBerry sangat fokus untuk menghasilkan satu saja handset, yaitu BlackBerry Z10. Fokus ini membuat seri BlackBerry Q10 seolah ditinggalkan. Mungkin karena BlackBerry ingin menunjukkan bahwa Z10 bisa bersaing dengan iPhone dan Android yang sebagian besar full touch screen.

Tentu kita bertanya bagaimana reaksi peminat gadget di Amerika Serikat setelah diluncurkannya BlackBerry Z10. Bisa dikatakan, sebagian besar review menunjukkan hal yang positif. Satu review yang patut dicatat adalah dari Walt Mossberg. Meskipun menilai positif kembalinya BlackBerry dengan Z10, namun jelas sekali hype-nya biasa saja. Review lain di Gizmodo menunjukkan kelemahan kamera Z10 dalam kondisi kurang cahaya. Dalam foto yang dipublikasikan, hasil foto dari Z10 saat low light sangat tidak bagus.

Namun demikian, kembali kepada pendapat umum, sepertinya BlackBerry sudah melalui masa kritis tahap pertama, yaitu peluncuran yang lumayan sukses. Ini dibuktikan dengan review positif yang mereka terima. Akan tetapi hal tersebut sebenarnya belumlah cukup untuk sebuah brand yang pernah menguasai pasar smartphone dunia dan termasuk sebagai inventor di pasar smartphone. Mengapa?

Meskipun review yang diterima BlackBerry Z10 sejauh ini positif, namun investor di pasar saham beranggapan sebaliknya. Cukup banyak analis yang meragukan kemampuan BlackBerry untuk kembali bersaing dengan Android dan iPhone. Kesimpulan umum yang bisa kita katakan adalah, tanggapan analis kurang bagus atas usaha BlackBerry kembali ke pasar. Pasar saham juga bereaksi sama, saham BlackBerry yang beberapa waktu sebelum peluncuran mengalami kenaikan yang sangat signifikan, mengalami penurunan 18% setelah peluncuran BlackBerry Z10 dan Q10 seperti dilansir oleh berbagai. 

Ini artinya meskipun secara handset mendapat tanggapan baik, namun secara keseluruhan banyak analis meragukan kemampuan BlackBerry untuk bersaing dengan Android dan iPhone. Satu alasan kuat yang bisa dimunculkan adalah posisi BlackBerry di pasar smartphone dunia di kuartal keempat dan di tahun 2012 yang lalu.

Data IDC yang dirilis pada tanggal 24 Januari 2013 menyebutkan bahwa BlackBerry tidak lagi termasuk empat besar vendor smartphone di kuartal keempat dan secara keseluruhan di tahun 2012 yang lalu. Coba kita lihat data berikut ini.





Pada tabel satu kita melihat bahwa posisi BlackBerry aka RIM sudah digantikan oleh vendor asal China, yaitu Huawei dan ZTE. Kedua vendor ini mengusung Android sebagai platform utama smartphone mereka. Di tabel dua yang menunjukkan posisi vendor smartphone di tahun 2012 secara keseluruhan BlackBerry masih bisa tersenyum dengan berada di posisi kelima. Namun penguasaan pasarnya tinggal hanya 4,6%. Angka ini tentu sudah sangat jauh turun dibandingkan posisi mereka dua atau tiga tahun yang lalu.

Berdasarkan posisi pasar tersebut, saya rasa keraguan analis terhadap kemampuan BlackBerry untuk bangkit sangat wajar. Dengan hanya 4,6% pasar apa yang bisa anda perbuat? Coba kita bandingkan dengan iPhone yang juga single fighter, penguasaan pasarnya jauh di atas BlackBerry. Sepanjang tahun 2012 yang lalu, Apple Inc. sebagai produsen iPhone menikmati kue pasar global yang cukup besar, yaitu 19,1%. 

Dengan penguasaan pasar 4,6% cukup berat bagi BlackBerry untuk bisa bersaing dengan Android dan iPhone. Saya kira, seperti kebanyakan analis lainnya, kemunculan BlackBerry baru dengan sistem operasi baru mungkin sudah terlambat. Bila diluncurkan dua tahun yang lalu, saya percaya BlackBerry Z10 akan sangat digandrungi pengguna BlackBerry sehingga mereka tak mungkin pindah ke Android atau iPhone.

Posisi BlackBerry yang berada di urutan buncit lima besar vendor smartphone dunia ini memang sesuatu yang cukup menherankan mengingat mereka merupakan perintis pasar smartphone. Hal ini tidak lebih karena mereka terlalu terlena dengan kondisi pasar yang mereka nikmati. Seperti juga Nokia yang akhirnya membakar Symbian, keduanya bisa dikatakan terlena dan kurang berinovasi di pasar yang cepat sekali berubah seperti pasar smartphone. Ketika mereka kembali ke pasar dengan inovasi baru, pemain lain sudah lebih dulu memantapkan posisi mereka sehingga akan sangat sulit untuk digoyahkan. 

Hal lain yang patut dicatat adalah sebagian besar pasar BlackBerry kini berada di negara berkembang seperti Indonesia, India dan Thailand serta mungkin beberapa negara Afrika seperti Mesir. Konsumen di negara-negara tersebut sangat sensitif dengan harga, sedangkan BlackBerry Z10 merupakan handset yang tidaklah murah. Hal ini akan memperlambat penetrasi handset sehingga bisa diperkirakan butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menaikkan pangsa pasar. Terlebih lagi BlackBerry Q10 yang rencananya (mungkin) akan lebih murah dibandingkan BlackBerry Z10, belum jelas benar bentuknya. 

Beberapa faktor tersebut akan membuat posisi BlackBerry stagnan dan mungkin sangat rentan untuk turun. Saya perkirakan selama enam bulan ke depan, hampir tidak bisa diharapkan BlackBerry Z10 akan memberikan dampak langsung bagi posisi BlackBerry di pasar smartphone dunia. Posisi BlackBerry mungkin bisa berubah, setelah handset BlackBerry Z10 dan Q10 bersama-sama muncul di pasar di seluruh dunia. Terlepas apakah BlackBerry melakukan strategi pemasaran yang brilian, posisi BlackBerry masih akan mengalami tekanan beberapa waktu ke depan.

Steve Jobs Aktor Di Belakang Pakta Tidak Saling Merekrut Karyawan

Steve Jobs
Sumber: campus.edublogs.org
Hari selasa yang lalu (22 Januari 2013) pengadilan mengeluarkan beberapa email yang menjadi bukti adanya persekongkolan di antara perusahaan teknologi di Silicon Valley untuk sepakat tidak saling merekrut karyawan masing-masing perusahaan yang berpartisipasi. 

Email yang menjadi bukti tersebut memperlihatkan peran besar almarhum Steve Jobs untuk memaksa pihak-pihak yang terlibat, seperti Google, Palm, Intel dan Intuit agar sepakat untuk tidak saling merekrut karyawan masing-masing. Hal yang cukup memberatkan Steve Jobs adalah ancamannya kepada CEO Palm waktu itu, Ed Colligan agar berhenti merekrut karyawan Apple Inc. Jika Palm tidak berhenti, Steve Jobs akan melancarkan gugatan paten (bogus patent) terhadap Palm.

Pertanyaannya mengapa munculnya email keterlibatan para petinggi perusahaan di Slicon Valley ini? Sejenak ke belakang, beberapa orang karyawan yang merasa dirugikan dengan adanya perjanjian untuk tidak saling merekrut karyawan ini mengajukan gugatan perdata kepada pengadilan. Mereka menuduh beberapa perusahaan, seperti Apple Inc., Google, Intel, Intuit, Adobe, LucasFilm, dan Pixar bersekongkol untuk tidak saling merekrut karyawan. Mereka merasa dirugikan miliaran dollar karena adanya persekongkolan tersebut. Persekongkolan tersebut mencegah mereka untuk berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain di Silicon Valley, terutama yang terlibat dalam pakta no hire agreement tersebut. Tentunya dengan adanya persekongkolan tersebut mereka tidak bisa memperoleh pendapatan yang lebih tinggi yang ditawarkan oleh salah satu di antara perusahaan yang terlibat.

Khusus mengenai Palm dan Apple Inc.terdapat nama Jon Rubinstein yang cukup familiar karena pernah menjadi CEO Palm. Jon Rubinstein adalah mantan karyawan Apple Inc. dengan jabatan terakhir sebagai senior vice president of Apple's iPod division. Jon Rubinstein meninggalkan Apple Inc. tahun 2006. Di tahun 2007 ia bergabung dengan Palm guna mengembangkan smartphone dan sistem operasi WebOS. Hasil karya Rubinstein yang penting adalah Palm Pre dan WebOS.

Setelah tidak lagi di Apple Inch lebih dari setahun, Rubinstein bergabung dengan Palm. Namun hal ini tidak membuat senang Steve Jobs. Dalam emailnya ke Ed Colligan sebagaimana dikutip dari banyak sumber, Steve Jobs meminta Ed Colligan untuk menghentikan perekrutan karyawan Apple Inc.Apple Inc. merasa bahwa Palm berusaha merekrut karyawan Apple Inc. divisi iPod untuk bergabung ke Palm melalui Jon Rubinstein.

Steve Jobs mengancam Palm dan Ed Colligan jika perekrutan karyawan Apple Inc. tidak dihentikan ia akan melakukan perang paten. Tentu saja Ed Colligan menjawab bahwa sepanjang urusan paten Palm juga memiliki cukup banyak paten untuk melawan Apple Inc. Hal yang aneh tentunya. Steve Jobs memaksakan perang paten karena perusahaan lain yang merekrut karyawannya. Padahal tidak ada hubungan antara paten dan perekrutan karyawan.

Steve Jobs menyadari bahwa trik tersebut tidak berhasil dan menekan Ed Colligan dalam bahasa yang lebih jelas dikemukakan oleh Dan Lyions sebagai berikut.
We have way more money than you do and can tie you up in court forever and destroy you financially. 
Ed Colligan bukan satu-satunya pihak yang dikirimi email oleh Steve Jobs. Mantan CEO Google, Eric Schmidt juga menerima email yang berisi sebagai berikut. 

email yang dikirim Steve Jobs tersebut memaksa Eric Schmidt untuk mengeluarkan aturan perekrutan yang disebut Special Agreement Hiring Policy yang isinya untuk tidak menarik karyawan dari perusahaan sensitif salah satunya, yaitu Apple Inc. 

Jika kita lihat keseluruhan bukti yang dikeluarkan pengadilan, Steve Jobs memang punya peranan besar dalam pakta no hire agreement ini. Berkat ancamannya melalui email yang dikirim ke Palm dan Google, dua perusahaan ini tentu saja tidak mau terlibat perseteruan dengan Apple Inc. Mereka lebih memilih untuk ikut saja. Hal ini merupakan kerugian bagi karyawan yang potensial untuk direkrut perusahaan. Akibatnya mereka kehilangan kemungkinan pendapatan yang lebih besar.

Sumber lebih lanjut: